Sebagai bagian dari pendampingan Studi Kelayakan rencana pendirian Politeknik King Kong, Tim ATMI BizDEC melaksanakan kegiatan sosialisasi dan riset lanjutan pada 30 September–2 Oktober 2026 di wilayah Tegal dan sekitarnya. Kegiatan ini mencakup kunjungan ke enam SMA di Tegal, Brebes, dan Pemalang, dengan wawancara guru sebagai bagian penting dalam pengumpulan informasi.
Melalui percakapan langsung dengan guru dan pihak sekolah, tim memperoleh penjelasan mengenai rencana siswa setelah lulus, pertimbangan dalam melanjutkan pendidikan tinggi, serta kondisi yang memengaruhi pilihan tersebut.

Melengkapi Gambaran dari Survei Awal
Survei pertama pada 15–18 September 2026 telah memberikan informasi awal mengenai minat dan pertimbangan siswa terhadap pendidikan tinggi. Namun, respons yang terkumpul masih didominasi siswa SMK, sementara informasi dari lingkungan SMA serta cakupan Brebes dan Pemalang masih perlu diperluas.
Kegiatan lanjutan dilakukan untuk melengkapi gambaran tersebut. Selain menambah respons siswa SMA, wawancara guru bertujuan memahami latar belakang pilihan siswa dan memperoleh penjelasan yang tidak sepenuhnya dapat digali melalui kuesioner.
Berkunjung dan Berdialog dengan Guru
Tim ATMI BizDEC mengunjungi tiga SMA di Brebes, dua SMA di Pemalang, dan satu SMA di Tegal. Dalam kunjungan tersebut, tim berkoordinasi dengan pihak sekolah dan melakukan wawancara untuk menggali pengalaman guru dalam mendampingi siswa menentukan langkah setelah lulus.
Pembahasan mencakup pola studi lanjut lulusan, pilihan antara kuliah dan bekerja, serta informasi pendidikan tinggi yang dibutuhkan siswa. Percakapan ini membantu tim memahami kondisi masing-masing sekolah dan melengkapi jawaban siswa melalui sudut pandang guru.

Memahami Pertimbangan Studi Lanjut Siswa
Secara garis besar, wawancara menunjukkan bahwa pilihan siswa setelah lulus dipengaruhi oleh beberapa pertimbangan. Biaya pendidikan, ketersediaan beasiswa, akses informasi mengenai perguruan tinggi, dan hubungan program studi dengan peluang karier menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Pilihan untuk bekerja terlebih dahulu juga muncul dalam pembahasan. Informasi tersebut membantu menjelaskan bahwa minat terhadap kuliah perlu dibaca bersama kondisi keluarga dan rencana siswa untuk memasuki dunia kerja.
Memperoleh Gambaran yang Lebih Beragam
Wawancara di enam SMA memberikan tambahan konteks mengenai perbedaan pola studi lanjut dan pertimbangan siswa antarsekolah. Masukan guru memperkuat perhatian terhadap keterjangkauan biaya, kejelasan informasi program, serta relevansi pendidikan dengan kebutuhan karier.
Bersamaan dengan kegiatan tersebut, survei siswa juga diperluas sehingga komposisi respons SMA dan SMK menjadi lebih seimbang. Wawancara guru melengkapi data kuesioner dengan penjelasan mengenai kondisi di balik pilihan siswa, sehingga hasilnya dapat dipahami secara lebih utuh.

Menjadi Masukan bagi Studi Kelayakan
Kegiatan lanjutan ini menghasilkan tambahan informasi dari lingkungan SMA yang sebelumnya masih terbatas. Pengalaman dan pandangan guru menjadi bahan untuk menelaah kebutuhan calon mahasiswa serta kesesuaian rencana Politeknik King Kong dengan kondisi pendidikan di wilayah Tegal dan sekitarnya.
Hasil wawancara selanjutnya dianalisis bersama data siswa, orang tua atau wali, dan kuesioner sekolah. Seluruh informasi tersebut masih merupakan bahan pendalaman studi kelayakan dan belum menjadi keputusan akhir mengenai pendirian maupun program studi yang akan diselenggarakan.